Sejarah Dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu


KOTA Bengkulu, Provinsi Bengkulu, mempunyai tempat wisata yang komplet. Pelancong bisa menikmati keindahan alam sekaligus menyaksikan bangunan bersejarah. Kekayaan adat di "Bumi Rafflesia" juga menjadi suguhan yang sayang untuk dilewatkan.

Tak semacam pantai di daerah lain yang ditumbuhi pohon kelapa, Pantai Panjang justru indah sebab ditumbuhi pohon cemara yang berjajar rapi di sepanjang pantai bak psupaya nasib. Tidak hanya itu, juga ada jalanan beraspal sepanjang 7 kilometer yang berada di bawah kerimbunan pohon cemara.

Pengunjung juga bisa menikmati gulungan serta debur ombak samudra. Menikmati senja sambil menyeruput segarnya es kelapa serta menantikan matahari tenggelam di pinggir pantai.

Berada di pesisir barat Sumatera, Pantai Panjang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Ombak pantai yang besar serta tinggi inilah yang menjadikan Pantai Panjang sebagai destinasi surga bagi para peselancar domestik serta dunia.

Seluruh potensi itu saat ini ditata oleh Pemerintah Daerah Bengkulu untuk hebat wisatawan lokal maupun asing.

Kawasan pantai yang lebih bersih serta indah diakui Irwansyah (46), pengunjung asal Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.


Pulau Tikus, Provinsi Bengkulu
Menurut Irwansyah, kondisi Pantai Panjang saat ini lebih terawat dibandingkan berbagai tahun silam. Dulu di Pantai Panjang puluhan gubuk berdiri di pinggir pantai jadi mengganggu pemandangan.
Kini, jumlah deretan gubuk telah bertidak lebih. "Sekarang, pantai lebih tertata rapi," katanya, Jumat pagi (18/11/2016).

Pantai panjang hanyalah satu dari sejumlah harapan pariwisata Bengkulu. Tetap tidak sedikit destinasi indah di daerah Bengkulu, antara lain Pulau Tikus, Pantai Tapak Padri, Pantai Pasir Putih di dekat Pelabuhan Samudra Pulau Baai, serta Sertaau Dendam Tidak Telah.

Sejarah serta budaya

Selain menikmati keindahan alam, pengunjung juga bisa menikmati wisata sejarah serta budaya. Tempat bersejarah yang bisa dikunjungi, di antaranya rumah Bunda Fatmawati, istri presiden pertama RI Ir Soekarno, rumah Presiden Soekarno saat diasingkan Belanda di Bengkulu tahun 1938-1942.

Peninggalan sejarah lainnya adalah Benteng Marlborough di tepi Pantai Tapak Padri. Bangunan ini adalah bangunan kokoh peninggalan Inggris yang dibuat tahun 1713 hingga 1719 pada masa kepemimpinan Gubernur Joseph Collet.

Di benteng tersebut, pengunjung bisa meperbuat napak tilas jejak Kerajaan Inggris dengan menyusuri lorong-lorong yang sarat sejarah sekaligus menikmati pemandangan pantai dari atas benteng.


Benteng Marlborough di Bengkulu, Selasa (14/2/2012). Benteng peninggalan Inggris ini didirikan oleh East India Company (EIC) tahun 1713-1719 di bawah ceo gubernur Joseph Callet sebagai benteng pertahanan Inggris.
Rekaman sejarah itu tersaji di dalam gambar-gambar, dokumen, serta diorama yang ditampilkan di bastion (bekas ruang perwira) yang dimanfaatkan sebagai tempat pameran. Di sana tersedia pula ruangan bekas penjara tahanan perang alias politik.
Konon, benteng seluas 44.100 meter persegi itu dibuat dari material batu granit India. Para pekerjanya juga didatangkan dari India oleh Pemerintah Inggris. Hingga kini, warisan adat yang tetap bersi kukuh adalah perayaan Tabot. Agenda Tabot dirayakan setiap tanggal 1 hingga 10 Muharam.

Selain Tabot, wisata adat yang bisa dinikmati pengunjung adalah kerajinan batik besurek. Tetapi, dampak sedikitnya perajin, lumayan susah menonton langsung perajin yang sedang membikin kain besurek.

Keadaan inilah yang membikin Pemda Bengkulu mulai menggalakkan kembali kerajinan kain besurek di Bengkulu. Upaya yang diperbuat adalah mendirikan kampung batik serta melatih kurang lebih 50 orang menjadi perajin batik.

Infrastruktur

Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti berkata, komitmen untuk membangun kawasan wisata diperbuat dengan membenahi infrastruktur jalan. Pada 2017, Pemda Bengkulu bakal menganggarkan sertaa Rp 1 triliun untuk membenahi jalan serta jembatan.


Rumah Bung Karno saat diasingkan di Bengkulu dilihat dari depan.
Pemda Bengkulu juga mencanangkan Visit Bengkulu tahun 2020. Selagi empat tahun ke depan, jumlah wisatawan ditarget naik dari 350.000 menjadi 700.000 orang.
Pengamat adat dari Universitas Bengkulu, Agus Setiyanto, membicarakan, upaya pelestarian kain besurek tidak lumayan dengan memberbagi keterampilan membatik. Lebih dari itu, pemerintah wajib menumbuhkan kecintaan serta kebanggaan masyarakat Bengkulu pada batik besurek.

Ia juga mengingatkan, pembangunan pariwisata wajib sejalan dengan kearifan lokal. Bengkulu terbukti mempunyai potensi wisata yang pantas dipromosikan. Tetapi, jangan hingga kualitas-kualitas adat lokal tergerus seiring dengan terus terbukanya Bengkulu bagi para pelancong
Secara geografis, Bengkulu boleh dibilang masuk dalam kategori wilayah periferal. Dan kategori periferal, tidaklah cenderung ekslusif ataupun esoteris. Namun dalam perjalanan sejarahnya, Bengkulu justru menjadi ajang pelarian kaum migran dari beberapa etnis, baik etnis domestik (Bugis, Madura, Jawa, Melayu, Minang, Aceh, Bali, Nias dan lain-lain), ataupun etnis manca (Eropa, Afrika, India, Cina, Persia, Arab dan lain-lain). Dan mereka (para migran) itu berlatar belakang kelas sosial yang bervariatif. Ada yang dari kelas adel (bangsawan), ambtenaar (pegawai), legger (tentara), handelaar (pedagang), hingga slaven(budak).

Seusai terjadi kontak sosial yang lumayan intens dengan masyarakat setempat, benturan sosio-koltural pun tidak terelakan. Dan benturan sosio-kultural tersebut sudah mengangkat implikasi proses enkulturasi (pembudayaan) baik dengan cara ekulturatif maupun proses asimilatif dalam kenasiban kebudayaan masyarakat Bengkulu.

Kontak sosio-kultural yang relatif lama membukapeluang membangun koloni (perkampungan alias pemukiman) yang namanya tidak jarang didasarkan atas geneologis etnisnya, semacam Kampung Kepiri, Kampung Melayu, Kampung Cina, Kampung Bali, Kampung Aceh, dan lain-lain. Di samping itu, ada juga nama-nama tempat/wilayah memperlihatkan bukti diri etnis semacam Kerkap, Manna, Talo dan lain-lain.

Dan pasti saja beberapa ragam bahasa, sastra, kesenian, perumahan, pakaian, peralatan, dan wujud fisik pun mempunyai kontribusi yang sangat berharga dalam memperkaya bukti diri budaya masyarakat Bengkulu.

Itulah kiranya yang mewarnai peta budaya masyarakat Bengkulu yang multi kultural dan juga multi etnis, meskipun diakui tidak sedikit tahap yang sudah sirna ditelan era, ataupun terealisasi di tengah percaturan budaya. Kecuali, kebudayaan yang mempunyai performa defensif, akomodatif, dan integratif, itulah yang kemudian terserap menjadi kristal kekuatan budaya yang local genius .

Berikut adalah ciri khas budaya Bengkulu, semacam pakaian adat, rumah adat, tarian tradisional, dan lain – lain :

ü  Pakaian Budaya Provinsi Bengkulu
imagesPakaian Budaya Pria Bengkulu terdiri dari Jas, Sarung, Celana Panjang, Alas kaki yang dibekali dengan penutup kepala dan suatu  keris. Jas tersebut terbuar dari kain bermutu semacam wol dan sejenis nya, dan biasanya berwarna gelap semacam hitam alias biru tua, begitu juga celana nya terbbuat dari bahan dan warna yang sama.

Pakaian Budaya Wanita Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang, bertabur corak-corak, sulaman emas berbentuk lempengan-lempengan bulat semacam uang logam. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua, lembayung alias hitam. Sarung Songket benang emas alias perak dalam warna serasi dan sutra adalah perangkat busana yang di gunakan dari pinggang hingga mata kaki.

ü  Tarian Tradisional dan Seni Musik Daerah Bengkulu

Setiap daerah di Indonesia pasti mempunyai tarian tradisional alias musik tradisional nya sendiri sesuai dengan budaya istiadat yang ada di daerah tersebut, di provinsi Bengkulu juga mempunyai seni tari tradisional dan seni musik tradisional yang khas, semacam berikut ini :
Tarian Tradisional Provinsi Bengkulu :
Tari Tombak Kerbau
Tari Putri Gading Cempaka
Tari Pukek
Tari Andun
Tari Kejei
Tari Penyambutan
Tari Bidadari Meminang Anak
Tari Topeng
Seni Musik Tradisional Provisni Bengkulu :

Geritan yaitu cerita sambil berlagu
Serambeak yang berupa Petatah-Petitih
Andi-andi yaitu Seni sastra yang berupa nasihat
Sambei yaitu seni vokal khas suku Rejang,biasanya untuk pesta perkawinan
ü  Rumah Budaya Masyarakat Provinsi Bengkulu

rumah budaya bengkuluDalam bahasa melayu Bengkulu, rumah tempat tinggal dinamakan juga “Rumah”. Rumah tradisional Bengkulu tergolong jenis rumah panggung. Rumah panggung ini dirancang untuk melindungi penghuninya dari banjir. Disamping itu kolong rumah panggung juga bisa dipergunakan untuk menyimpan gerobak, hasil panen, alat-alat pertanian, kayu api, dan juga bermanfaat sebagai kandang fauna ternak.

Bentuk rumah panggung melayu ini terbagi menjadi beberapa tahap, yaitu :

Bagian atas rumah masyarakat Bengkulu terdiri dari :

Atap, terbuat dari ijuk, bamboo, alias seng
Bubungan, ada beberapa bentuk
Pacu = plafon dari papan alias pelupuh
Peran : balok-balok tahap atas yang menghubungkan
Tiang-tiang tahap atas
Kap : kerangka untuk menempel kasau
Kasau : untuk mendasi reng
Reng : untuk menempel atap
Listplang, suyuk, penyunting
Bagian tengah terdiri dari :
Kusen, kerangka untuk pintu dan jendela
Dinding : terbuat dari papan alias pelupuh
Jendela : bentuk biasa dan bentuk ram
Pintu : bentuk biasa dan bentuk ram
Tulusi (celah angin) : ventilasi, biasanya di atas pintu dan jendela, dibangun dengan beberapa ragam hias
Tinag penjuru
Piabung : tiang penjuru hal
Tiang tengah
Bendu : balok melintang sepanjang dinding
Bagian bawah terdiri dari :

Lantai, dari papan, bamboo, alias pelupuh
Geladak, dari papan 8 dim dengan lebar 50cm dipasang sepanjang dinding luar di atas balok
Kijing, penutup balok pinggir dari luar, sepanjang keliling dinding
Balok (besar), kerangka untuk lantai yang memanjang ke depan
Tailan : balok sedang yang bermanfaat sebagai tempat menempelkan lantai

Blandar : penahan talian, melintang

0 Response to "Sejarah Dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu"

Post a Comment